Perkembangan Mahasiswa di Era Digital
Perkembangan Mahasiswa di Era Digital
"Resume Materi H-2 PKKMB UNUSA"
Materi pertama pada PKKMB UNUSA hari kedua ini adalah Perguruan Tinggi di Area Digital dan Revolusi Industri yang disampaikan oleh Pak Ainun Najib. Di era sekarang ini, teknologi AI sudah marak digunakan mulai dari pelajar hingga mahasiswa. Munculnya AI dapat diartikan seperti munculnya listrik di kehidupan manusia yang membawa suatu perubahan. Namun, secanggih-canggihnya, AI tidak dapat menggantikan manusia dalam aspek berpikir kreatif atau tidak dapat menciptakan sesuatu yang baru karena kembali lagi bahwasannya AI adalah kecerdasan buatan. AI hanya dapat menciptakan sesuatu yang ia lihat atau simpan pada sistemnya.
Lalu, aspek kedua yang tidak dapat digantikan atau dilakukan oleh AI adalah perilaku kemanusiaan. AI tidak benar-benar paham dengan suatu peri kemanusiaan, AI hanya meniru hal yang sebelumnya pernah ia dapat. Maka dari itu, manusia perlu memiliki rasa kemanusiaan dan dapat berpikir kreatif agar tidak tergantikan perannya oleh AI. Kita perlu masuk ke bidang yang memerlukan nilai kemanusiaan dan berpikir kreatif. Apabila bidang tersebut senantiasa kita asah, maka bidang tersebut tidak akan meninggalkan kita.
Ketika kita menggunakan AI untuk keperluan pribadi, seperti tugas atau penelitian alangkah baiknya tidak diterima mentah-mentah. Hal tersebut dikarenakan AI tidak selalu benar dan butuh yang dinamakan verifikasi ulang data yang diberikan oleh AI. Apabila kita menerima mentah-mentah informasi atau data yang diberikan, jika diketahui bahwa data tidak sesuai fakta yang ada maka hal tersebut akan merugikan kita sebagai manusia. Maka dari itu, kita perlu bijak dalam menggunakan AI agar tidak merugikan diri kita sendiri
Materi selanjutnya yakni Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi, disampaikan oleh Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H. Korupsi kerap kali menjadi kasus yang dimunculkan pada berita. Dampak dari korupsi sendiri tidak hanya merugikan negara pada aspek uang, melainkan juga berdampak ke SDM dan harapan negara. Selain itu, korupsi juga menyebabkan hal-hal seperti merusak proses demokrasi, meruntuhkan hukum, melanggar HAM, menurunkan kualitas SDM, mengembangkan kejahatan yang lain, dan merusak harga pasar, sekaligus persaingan usaha yang sehat.
Sangat disayangkan, korupsi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang merugikan itu turut memberi dampak buruk bagi yang tidak berbuat. Dan juga, korupsi turut menghilangkan karakter prioritas bangsa, seperti saling menghargai, solidaritas, kesederhanaan, dan kemandirian. Bahkan juga, pelaku korupsi pun tidak pandang umur karena mahasiswa pun dapat melakukan korupsi dengan suatu perilaku yang merugikan, contohnya titip absen atau meniru karya milik orang lain. Pada dasarnya, pelaku hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain.
Korupsi ialah pengkhianatan terhadap amanah yang telah diberikan. Bangsa kita membutuhkan orang-orang yang memiliki karakter prioritas bangsa. Dan yang perlu diperhatikan, Indonesia memiliki banyak orang pintar, namun kekurangan orang yang jujur. Padahal, apabila seseorang jujur dan berintegritas, maka ia akan dicari oleh orang lain. Korupsi tidak akan selesai-selesai tanpa langkah untuk menanggulanginya. Bersama den8gan orang jujur, kita mampu maju dan dapat menaruh harapan.
Lalu, materi ketiga yakni mengenai Pengenalan Nilai Budaya dan Etika Kehidupan Kampus, Tata Krama dan Norma Kehidupan Kampus, Terampil serta Bijak dalam Berkomunikasi Melalui Media Sosial disampaikan oleh Dimas Chairullah, S.Sos. Dalam bermedia sosial, sudah semestinya kita harus bijak. Seperti yang kita tahu, bahwa ada yang namanya jejak digital. Bahkan, data yang kita posting lalu kita hapus, data tersebut belum sepenuhnya hilang karena adanya jejak digital.
Selain itu, kita juga perlu waspada dengan berita yang belum tentu kebenarannya. Dan juga, kita perlu waspada dengan judul suatu konten yang provokatif. Ada baiknya kita tidak asal posting atau membagikan informasi hoaks karena apabila hoaks tersebar, maka banyak orang akan terdampak jika hoaks tersebut terus-terusan dibagikan. Maka dari itu, kita perlu bermedia sosial dengan cerdas.
Sekarang ini, masih marak terjadi yang namanya cyber-bullying. Bahkan, pada acara yang besar pun masih bisa terjadi tindakan bullying. Hal itu disebabkan pelaku yang merasa bahwa korban berbeda dengan dirinya, tanpa mengerti perasaan korbannya. Hal tersebut dapat memicu rasa minder bagi korban, padahal kita sebagai manusia tidak harus menjadi sempurna. Tidak ada orang yang tidak memiliki kelebihan, semuanya memiliki itu, hanya perlu dicari dan digali saja.
Komentar
Posting Komentar